Kamis, Oktober 29, 2015

Kali Pertama Dihipnotis

Catatan 29 Sept 2015.

Seperti hari biasanya, berangkat pagi untuk datang ke sekolah dengan rapih, bersih, dan dengan wajah berseri yang ganteng maksimal (kurang lebih begitu).  Mata pelajaran pertama adalah elektronika, pelajaran yang katanya 'laki banget'.

Di kelas saat gue lagi serius-seriusnya menggambar dua gunung satu matahari skema elektronika bareng temen cewek.. iya temen. Tiba-tiba datang Bu Mus memanggil gue. Kemudian setelah melewati rumitnya administrasi sekolah akhirnya gue bisa dapet surat tugas untuk ikut lomba PIK-R di Pemda Bantul, Mandingan. Ini hal yang cukup mendadak.

Gue berangkat bersama empat orang teman dan satu guru. Tiga orang ikut lomba termasuk gue, dua lainnya ikut pelatihan di gedung BKK yang nggak jauh dari lokasi lomba.

Setelah parkir motor kita lanjut daftar ulang ke panitia. Saat masuk kelas ternyata kita udah telat, sisa sekitar 46 Menit untuk mengerjakan 40 soal pilihan ganda dan 10 soal essay. Gapapa, stay cool. (Dalem hati: ohh tidaaakkk!)

Gue nggak sempet ngitung di ruangan itu ada berapa banyak peserta. iya, gue emang telat. Buat ngerjain soal aja gue mengandalkan 10% logika, 2% ingatan, dan 88% keberuntungan. tentang gimana saat ujian.. itu cukup, oke? Udah dibilang: gue stay cool (dalem hati: nahloh mampus lu, Gung!!)

And then, lomba seleksi tertulis selesai. Dan gue nggak termasuk ke-sepuluh orang beruntung disitu. Kabar baiknya gue mendapatkan pengalaman baru.
Jadi program yang dihadiri anak SMP dan SMA se-Bantul ini adalah lomba evaluasi yang dilanjuti dengan pelatihan Kader Kesehatan Remaja (KKR).

***

Kita semua menyatukan jari tangan kedepan dan berimajinasi bahwa tangan kita adalah gembok. Kemudian kakak panitia dari SAY datang membawa kunci (pura-pura) dan mengunci gembok yaitu tangan kita (pura-pura juga). Di permainan ini kita harus fokus (nah ini gak pura-pura). Berkali-kali kita dituntun untuk ambil nafas dari hidung kemudian dikeluarkan lewat pantat mulut perlahan. 

Ternyata gue nggak bisa melepas kedua tangan. Kata-kata intruksi itu mempengaruhi gue. Atau apakah ini kutukan karena gue nggak mencium tangan Pak satpam tadi di sekolah? Sial gue durhaka.

Sekitar 12 orang maju ke depan dan  mereka gak berbakti juga sama Pak satpam (kayaknya). Jadi ternyata ini yang namanya sugesti. Right, gue paham sekarang.

Di panggung, 12 orang tadi diseleksi lagi jadi 4 orang. 3 orang cewek dan 1 orang cowok. Kali ini gue beruntung. Semoga..

Permainan pertama buat ke-empat orang di panggung adalah saling berpasangan. Masing-masing orang sudah diberikan satu pensil kayu. Dan bergantian untuk mematahkan pensil hanya dengan satu jari kelingking.

Intinya adalah keyakinan. Gue sih mudah aja, pasangan gue juga bisa. Nah pasangan sebelah ada yang nggak bisa. Saat ditanya kakak pembicara, dia menjawab: " aaahh.. Aku nggak yakin!" Yaudah pantes dia gagal.

***

1... 2... 3... Tidur!

Aslinya gak gini.


Jujur gue adalah tipe orang yang sulit buat fokus ke satu hal dan orang yang susah banget buat tidur. Tapi kali ini gue bener-bener dibodohi. Tiba-tiba aja gitu gue masuk ke dalam alam relaksasi yang nyaman banget. Gue masih denger banyak suara di ruangan itu tapi gue malah tidur.  Pembicara memberi sugesti untuk membayangkan gue ada di pantai dengan ombak dan burung.

Yang gue rasain: gue lagi tiduran di kursi santai, di hadapan gue hamparan laut dengan ombak-ombak kecil menembus karang. Pasir pantainya putih, di sebelah kanan ada burung mungil sedang berkicau hinggap di meja kecil. Kemudian angin pantai menepis halus wajah gue dengan lembut. Sambil menyaksikan detailnya kenikmatan sang pencipta "ini baru hidup", seru batin gue.

Gak lama gue dibangunin dan diminta untuk mendeskripsikan apa yang gue rasain barusan. Gue jawab: sejuk.

***

Untuk kedua kalinya gue ditidur paksa dan masuk ke alam relaksasi.

"Untuk orang yang saya sentuh. Anggukan kepala jika anda mendengar saya. baik, untuk orang yang saya sentuh dengarkan sugesti saya. Jika anda seperti ini (mengepalkan tangan gue) anda adalah seorang mario teguh, dan jika anda seperti ini (membuka tangan gue) maka anda adalah anda seperti biasanya. Paham?" Dia mengulang-ulang sugesti itu untuk memastikan bahwa gue ngerti.
Dalam hitungan ke tiga, anda akan terbangun sambil meneriakkan "Allahu Akbar" dengan penuh semangat.

1..
2..
3.....!!

Hm.. discene ini mending cukup yang hadir, gue, dan tuhan aja yang tau. Pokoknya gue disuruh presentasi seputar rokok sambil tangan gue sesekali di kepalkan. Sampai ada cewek SMP yang ketawa geli pas gue kembali ke kursi audiens di samping dia, "hihihi lucu kak", malah dia ketawa mulu. Njirrr gue malu (--,")